Rasulullah saw berdabda: “Fathimah (Putri Rasul saw) Belahan jiwaku, membuatku marah apa apa yg membuatnya marah” (Shahih Bukhari)
Kita mengenal satu sosok manusia yang sangat dicintai oleh Rasulullah saw, manusia yang paling disayang Rasulullah. Siapa ?Sayyidatuna Fatimah Azzahra radiyallahu anha.
Ini haditsnya baru kita baca. “Fathimah badl’atun minniy..” Putriku Fatimah itu belahan dari tubuhku.
Tapi Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari lebih menekankan kepada belahan jiwaku. Maksudnya yang paling kucintai. “..aghdlabaniy man aghdlabaha” siapapun yang membuatnya marah akan membuatku marah.Kalimatnya sangat singkat, tapi kalau kita perdalam maknanya, Rasulullah itu tidak pernah marah untuk dirinya. Rasulullah itu marah hanya karena Allah saja semata. Kalau sudah urusan haknya Allah, baru Rasul saw marah. Berarti orang yang menyinggung perasaan Sayyidatuna Fatimah Azzahra berurusan dengan kemurkaan Allah. “..faman aghdhabaha aghdhabaniy” yang membuatnya marah akan membuatku marah. Ini adalah satu isyarat daripada hadits Nabi saw, betapa cinta Allah kepada Sayyidatuna Fatimah Azzahra, sehingga Rasul murka dengan orang yang membuat Sayyidatuna Fatimah Azzahra marah.
Putri Rasulillah. Ketika Sayyidina Ali
bin Abi Tholib kw mengirimkan istrinya yaitu Sayyidatuna Fatimah
Azzahra, karena tidak tega melihat Sayyidatuna Fatimah tangannya ini
luka – luka karena menumbuk padi sendiri, menumbuk gandum sendiri untuk
makanan anak – anaknya Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein.
Tangan yang demikian lembut mulai
tergores – gores dan berdarah. Sayyidina Ali bin Abi Tholib tidak tega,
kalau begitu coba minta pada Rasulullah khadim. “Banyak koq yang mau berkhadim kepada kita”, kata Sayyidina Ali bin Abi Tholib.
Sayyidatuna Fatimah datang kepada Rasul
saw. Rasulullah berdiri, disini dalil. Diriwayatkan didalam Fathul Baari
bisyarah Shahih Bukhari oleh Imam Ibn Hajar Al Asqalani bahwa Rasul itu
berdiri untuk menyambut Sayyidatuna Fatimah Azzahra, teriwayatkan dalam
banyak hadits shahih. Ini dalil berdirinya kita untuk orang yang kita
cintai. Rasulullah datang, Sayyidatuna Fatimah berdiri.
Zaman sekarang orang bilang kalau berdiri
maulid Nabi adalah syirik. Kita berdiri untuk orang yang paling
dicintai Allah yaitu Sayyidina Muhammad Saw. Terlihat tidak terlihat,
datang tidak datang, aku berdiri untuk menghormati Nabi Muhammad
Rasulullah saw.
Kita stop dulu cerita Sayyidatuna Fatimah.
Kita bicara lagi dalil berdiri saat mahallul qiyam.
Dari para Imatunal Akramin berikhtilaf tentang bolehnya berdiri, tetapi Hujjatul Islam Al Imam Nawawi mengatakan
bahwa pendapat yang paling shahih dan paling tsigah adalah layaknya
berdiri untuk menghormati ulama atau orang yang dicintai. Tapi ulama
mengatakan makruh, sebagian mengatakan haram berdiri untuk penguasa yang
jahat. Penguasa yang dhalim, jangan berdiri menghormatinya, itu kata Al
Imam Nawawi. Sebagian mengatakan makruh, sebagian mengatakan haram.
Tapi berdiri untuk para ulama adalah
amrun mustahab (hal yang baik/disukai), berdiri untuk tamu adalah amrun
mustahab (hal yang baik/disukai). Menghargai tamu, Rasulullah juga
berdiri menghargai tamu. Keluar dari semua ikhtilaf ini, kita berdiri
bukan untuk apa – apa, tapi saat mahallul qiyam karena gembira menyambut
kelahiran Nabi Muhammad saw, tidak terikat Rasulullahnya ada atau tidak
ada.
Demikian hadirin – hadirat.
Yang mengawalinya siapa?
Imam Taajusubkiy ‘Alaihi rahmatullah, seorang muhaddits dan seorang Hujjatul Islam.
Hujjatul Islam itu adalah orang hafal lebih dari 300.000 hadits.
Murid – muridnya adalah para huffadh dan
beliau seorang muhaddits besar, dan dikenal di banyak wilayah. Satu –
waktu beliau mengumpulkan murid – muridnya, para Al Hafidz. Murid –
muridnya hafal lebih dari 100.000 hadits, murid – muridnya kumpul. Para
ulama lain yang sejajar dengan beliau juga hadir. Satu orang baca
qasidah (pujian kepada Rasul saw), tiba – tiba Imam Tajusubkiy memegang
tongkatnya dan berdiri.
Beliau berdiri, berdiri seluruh hadirin,
maka mereka merasakan 1 sakinah, 1 ketenangan dan 1 kekhusyu’an yang
sangat dahsyat. Airmata mereka mengalir merindukan Nabi Muhammad Saw.
Jadi saat sedang baca qasidah, tiba – tiba Imam Tajusuki memegang tongkatnya dan berdiri tanpa sebab,
yang lain ikut berdiri,
maka disaat itu mereka merasakan 1 keanehan dan 1 ketenangan dan 1 rindu yang sangat dahsyat kepada Nabi Muhammad Saw.
Jadi yang pertama kali berbuat Mahallul Qiyam disaat shalawat adalah Imam Tajusubki.
Yang mana beliau itu diakui sebagai muhaddits dan sebagai Hujjatul
Islam yang sederajat dengan Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar dan Imam – Imam
lainnya.
Kita lanjutkan, Sayyidatuna Fatimah meminta khadim (pembantu) kepada Ayahnya. Ayahnya berkata “ya Fatimah, kuajarkan kau bacaan dan itu lebih baik daripada pembantu”, Sayyidatuna Fatimah berkata “koq bacaan wahai Ayah?”, Rasul berkata “sebelum
kau tidur baca Subhanallah 33X, Alhamdulillah 33X, Allahu Akbar 33X dan
akhiri dengan Lailahailallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa
lahul hamdu yuhyi wa yumiitu wa huwa a’laa kulli syaiin qadir, lalu
tidurlah. Kau bangun pasti akan lebih segar tubuhmu” (Shahih Bukhari),
Sekilas kita mengatakan bahwa ini adalah
perbuatan yang sedikit kejam. Orang minta pembantu malah diberi dzikir,
tetapi hadirin ini mujarab. Kalian pulang dari sini boleh coba, tubuh
yang sedang lelah dan lesu, coba sebelum tidur membaca Subhanallah,
Alhamdulillah, Allahu Akbar, masing – masing 33X dan akhiri dengan
Lailahailallah wahdahu laa syarikalah.., lalu tidur dan lihat bangunmu
tidak sama dengan bangun yang tanpa dzikir. Ada 1 kenasaban, ada rahasia
kekuatan Illahiyah masuk kedalam sel – sel tubuhmu. Demikian Sang Nabi
saw mengajari untuk Sayyidatuna Fatimah Azzahra. Wasiat beliau saw
kepada putrinya dan Rasul saw tidak memberikan khadim (pembantu). Kejam
sekali Rasul yang mempunyai banyak khadim. Sahabat diberi khadim 5, yang
ini dikasih khadim 10. Sementara putrinya tidak diberi khadim. Kenapa?
karena makanan yang dibuat dengan tangan ibunya sendiri lebih berkah
daripada makanan yang dibuat tangan pembantu. Kalau anak makanannya dari
tangan ibunya jauh lebih berhak dan lebih berkah daripada anak yang
diberi makan dari tangan pembantunya. Dari kasih sayangnya, dari
dzikirnya, apalagi Sang Ibu ini Sayyidatuna Fatimah Azzahra radiyallahu
anha. Rasul tidak mau makanan Sayyidina Hasan wal Husein dicampuri
tangan pembantu. Cukup tangan ibunya Sayyidatuna Fatimah Azzahra karena
Rasulullah tahu dari keturunan Sayyidina Hasan wal Husein akan muncul
puluhan ribu wali Allah yang akan mengislamkan Barat dan Timur. Ibunda dari semua Habaib yang ada di permukaan bumi.
Maka Rasul tidak mau ada tangan pembantu ikut makan daripada makanan
Sayyidina Hasan wal Husein radiyallahu anhum. Demikian hadirin –
hadirat, indahnya tarbiyah Sang Nabi saw.
Sebisa mungkin ini kaum wanita dari hal
ini, kalau anak masih bayi, masih 2, 3, 4 tahun, masih disuapi maka
semampunya berikan makanan dari tanganmu. Jangan dari tangan pembantu.
Kalau sudah mulai diatas 5 – 6 tahun, sudah tumbuh tulangnya silahkan
saja barangkali. Kalau masih kecil, jangan, selalu dari tanganmu sambil
dzikir, sambil baca yassin, sambil baca shalawat Allahumma Sholli Ala
Muhammad Sholli Wa Sallim Alaihi, terus latih anakmu itu dengan cahaya
dan cahaya dzikir. Akan kau lihat bagaimana dahsyatnya nanti.
Dibuktikan oleh para ilmuwan kita, ketika
wanita itu hamil baik diperdengakan itu dirahimnya (diperutnya) itu
musik – musik klasik, musik ya
Zaman sekarang orang bilang kalau berdiri
maulid Nabi adalah syirik. Kita berdiri untuk orang yang paling
dicintai Allah yaitu Sayyidina Muhammad Saw. Terlihat tidak terlihat,
datang tidak datang, aku berdiri untuk menghormati Nabi Muhammad
Rasulullah saw.
Kita stop dulu cerita Sayyidatuna Fatimah.
Kita bicara lagi dalil berdiri saat mahallul qiyam.
Dari para Imatunal Akramin berikhtilaf tentang bolehnya berdiri, tetapi Hujjatul Islam Al Imam Nawawi mengatakan
bahwa pendapat yang paling shahih dan paling tsigah adalah layaknya
berdiri untuk menghormati ulama atau orang yang dicintai. Tapi ulama
mengatakan makruh, sebagian mengatakan haram berdiri untuk penguasa yang
jahat. Penguasa yang dhalim, jangan berdiri menghormatinya, itu kata Al
Imam Nawawi. Sebagian mengatakan makruh, sebagian mengatakan haram.
Tapi berdiri untuk para ulama adalah
amrun mustahab (hal yang baik/disukai), berdiri untuk tamu adalah amrun
mustahab (hal yang baik/disukai). Menghargai tamu, Rasulullah juga
berdiri menghargai tamu. Keluar dari semua ikhtilaf ini, kita berdiri
bukan untuk apa – apa, tapi saat mahallul qiyam karena gembira menyambut
kelahiran Nabi Muhammad saw, tidak terikat Rasulullahnya ada atau tidak
ada.
Demikian hadirin – hadirat.
Yang mengawalinya siapa?
Imam Taajusubkiy ‘Alaihi rahmatullah, seorang muhaddits dan seorang Hujjatul Islam.
Hujjatul Islam itu adalah orang hafal lebih dari 300.000 hadits.
Murid – muridnya adalah para huffadh dan
beliau seorang muhaddits besar, dan dikenal di banyak wilayah. Satu –
waktu beliau mengumpulkan murid – muridnya, para Al Hafidz. Murid –
muridnya hafal lebih dari 100.000 hadits, murid – muridnya kumpul. Para
ulama lain yang sejajar dengan beliau juga hadir. Satu orang baca
qasidah (pujian kepada Rasul saw), tiba – tiba Imam Tajusubkiy memegang
tongkatnya dan berdiri.
Beliau berdiri, berdiri seluruh hadirin,
maka mereka merasakan 1 sakinah, 1 ketenangan dan 1 kekhusyu’an yang
sangat dahsyat. Airmata mereka mengalir merindukan Nabi Muhammad Saw.
Jadi saat sedang baca qasidah, tiba – tiba Imam Tajusuki memegang tongkatnya dan berdiri tanpa sebab,
yang lain ikut berdiri,
maka disaat itu mereka merasakan 1 keanehan dan 1 ketenangan dan 1 rindu yang sangat dahsyat kepada Nabi Muhammad Saw.
Jadi yang pertama kali berbuat Mahallul Qiyam disaat shalawat adalah Imam Tajusubki.
Yang mana beliau itu diakui sebagai muhaddits dan sebagai Hujjatul
Islam yang sederajat dengan Imam Nawawi, Imam Ibn Hajar dan Imam – Imam
lainnya.
Kita lanjutkan, Sayyidatuna Fatimah meminta khadim (pembantu) kepada Ayahnya. Ayahnya berkata “ya Fatimah, kuajarkan kau bacaan dan itu lebih baik daripada pembantu”, Sayyidatuna Fatimah berkata “koq bacaan wahai Ayah?”, Rasul berkata “sebelum
kau tidur baca Subhanallah 33X, Alhamdulillah 33X, Allahu Akbar 33X dan
akhiri dengan Lailahailallah wahdahu laa syarikalah lahul mulku wa
lahul hamdu yuhyi wa yumiitu wa huwa a’laa kulli syaiin qadir, lalu
tidurlah. Kau bangun pasti akan lebih segar tubuhmu” (Shahih Bukhari),
Sekilas kita mengatakan bahwa ini adalah
perbuatan yang sedikit kejam. Orang minta pembantu malah diberi dzikir,
tetapi hadirin ini mujarab. Kalian pulang dari sini boleh coba, tubuh
yang sedang lelah dan lesu, coba sebelum tidur membaca Subhanallah,
Alhamdulillah, Allahu Akbar, masing – masing 33X dan akhiri dengan
Lailahailallah wahdahu laa syarikalah.., lalu tidur dan lihat bangunmu
tidak sama dengan bangun yang tanpa dzikir. Ada 1 kenasaban, ada rahasia
kekuatan Illahiyah masuk kedalam sel – sel tubuhmu. Demikian Sang Nabi
saw mengajari untuk Sayyidatuna Fatimah Azzahra. Wasiat beliau saw
kepada putrinya dan Rasul saw tidak memberikan khadim (pembantu). Kejam
sekali Rasul yang mempunyai banyak khadim. Sahabat diberi khadim 5, yang
ini dikasih khadim 10. Sementara putrinya tidak diberi khadim. Kenapa?
karena makanan yang dibuat dengan tangan ibunya sendiri lebih berkah
daripada makanan yang dibuat tangan pembantu. Kalau anak makanannya dari
tangan ibunya jauh lebih berhak dan lebih berkah daripada anak yang
diberi makan dari tangan pembantunya. Dari kasih sayangnya, dari
dzikirnya, apalagi Sang Ibu ini Sayyidatuna Fatimah Azzahra radiyallahu
anha. Rasul tidak mau makanan Sayyidina Hasan wal Husein dicampuri
tangan pembantu. Cukup tangan ibunya Sayyidatuna Fatimah Azzahra karena
Rasulullah tahu dari keturunan Sayyidina Hasan wal Husein akan muncul
puluhan ribu wali Allah yang akan mengislamkan Barat dan Timur. Ibunda dari semua Habaib yang ada di permukaan bumi.
Maka Rasul tidak mau ada tangan pembantu ikut makan daripada makanan
Sayyidina Hasan wal Husein radiyallahu anhum. Demikian hadirin –
hadirat, indahnya tarbiyah Sang Nabi saw.
Sebisa mungkin ini kaum wanita dari hal
ini, kalau anak masih bayi, masih 2, 3, 4 tahun, masih disuapi maka
semampunya berikan makanan dari tanganmu. Jangan dari tangan pembantu.
Kalau sudah mulai diatas 5 – 6 tahun, sudah tumbuh tulangnya silahkan
saja barangkali. Kalau masih kecil, jangan, selalu dari tanganmu sambil
dzikir, sambil baca yassin, sambil baca shalawat Allahumma Sholli Ala
Muhammad Sholli Wa Sallim Alaihi, terus latih anakmu itu dengan cahaya
dan cahaya dzikir. Akan kau lihat bagaimana dahsyatnya nanti.
Dibuktikan oleh para ilmuwan kita, ketika
wanita itu hamil baik diperdengakan itu dirahimnya (diperutnya) itu
musik – musik klasik, musik yang tenang karena itu membantu daripada
proses pertumbuhan otak bayi didalam rahim. Musik atau suara yang tenang
itu membuat perkembangan otaknya lebih baik. Pantaslah kalau para salaf
kita mengajarkan agar membaca surat maryam bagi yang perempuan dan bagi
laki – laki membaca surat yusuf. Tentunya 1000X musik klasik, tidak
akan menyamai Kalamullah Swt. Perdengarkan pada rahim ibunya, wanita –
wanita yang hamil, suami – suami yang istrinya sedang hamil, ingat!
Istrinya agar mengamalkan surat – surat dalam Alqur’anulkarim, tidak
mesti surat maryam dan tidak mesti surat yusuf. Saran saya adalah surat
Muhammad Saw saja, itu yang paling sempurna kalau anaknya laki – laki.
Kalau perempuan ya kalau sudah kena cahaya kemuliaan dari Rahmatan lil
Alamin, berkah dunia dan akhirat. Insya Allah.
Hadirin – hadirat, Sayyidina Ali bin Abi
Tholib kw adalah orang yang barangkali jarang disebut didalam riwayat
hadits Shahih. Padahal didalam Shahih Bukhari riwayat tentang Sayyidina
Ali bin Abi Tholib lebih banyak daripada riwayat tentang Sayyidina Abu
Bakar Ashshiddiq radiyallahu anhum. Yang diriwayatkan oleh Sayyidina Abu
Bakar Ashshiddiq jauh lebih sedikit dibanding dengan yang diriwayatkan
oleh Sayyidina Ali bin Abi Tholib. Diriwayatkan Rasul saw bersabda wahai Ali apakah kau ini ridho, gembira karena posisimu itu posisinya Nabi Harun disisi Nabi Musa” (Shahih Bukhari)
Maksudnya sangat dekat dengan Rasul saw bukan sama – sama Nabi, tapi
sangat dekat dengan Rasulullah saw. Hadits seperti ini pernah diucapkan
kepada Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq dengan kalimat yang berbeda. Rasul
berkata kalau aku ini boleh mengambil seorang kekasih, maka aku
akan mengambil Abu Bakar Ashshiddiq radiyallahu anhum sebagai
kekasih.(Shahih Bukhari) Tapi karena aku tidak diizinkan punya kekasih kecuali Allah Jalla Wa Alla.
Jadi banyaknya hadits tentang kemuliaan
Sayyidina Ali bn Abi Tholib, Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq, Sayyidina
Umar bin Khattab dan Sayyidina Utsman bin Affan maka dikelompoklah yang
disebut dengan Khulafaurrasyidin dalam 1 kelompok dan
tidak tahu mana yang paling mulia. Yang 1 lebih cinta pada yang ini,
yang lebih lebih cinta pada yang ini, silahkan saja. Tapi keempatnya
memiliki kemuliaan yang agung. Dan Sayyidina Ali bin Abi Tholib yang
paling tidak menyukai ikhtilaf. Beliau paling benci ikhtilaf.
Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari ketika terjadi ikhtilaf didalam
khalifahnya bersama Muawiyah, berkata Sayyidina Ali bin Abi Tholib
“silahkan putuskan saja oleh kalian bagaimana maunya, kalian silahkan
musyawarahkan bagaimanapun caranya sungguh aku benci perpecahan, aku
akan perjuangkan Islam dalam 1 kelompok atau aku akan mati demi membela
persatuan dan wafat seperti sahabatku yang terdahulu yaitu Sayyidina Abu
Bakar, Sayyidina Umar dan Sayyidina Utsman radiyallahu anhu ajmain”.
Demikian wasiat Sayyidina Ali bin ABi Tholib kw.
Dan tentunya Sayyidina Abu Bakar
Ashshiddiq radiyallahu anhum yang muncul di masa sekarang
dipertentangkan bahwa Sayyidina Abu Bakar ini berbuat hal yang menyakiti
Sayyidatuna Fatimah Azzahra lantas dikaitkan dengan hadits ini “..man aghdabaha aghdhabaniy” bahwa Sayyidina Abu Bakar pernah menyakiti hati Sayyidatuna Fatimah Azzahra, putri Rasulullah sedang Rasulullah telah bersabda “barangsiapa yang membuat Fatimah marah maka akan membuatku marah”.
Sungguh ketika hadits ini diperdengarkan kepada Sayyidina Abu Bakar
Ashshiddiq, maka Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq datang kepada
Sayyidatuna Fatimah Azzahra meminta ridho dan restu. Demikian didalam
Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari. Datanglah Sayyidina Abu Bakar
Ashshiddiq kerumah Sayyidina Ali bin Abi Tholib “aku ini menjalankan
apa – apa yang diperintahkan Rasul saw bahwa Ahlul Bait tidak menerima
shadaqah. Namun Sayyidatuna Fatimah Azzahra tidak menerima warisan bahwa
Ahlul Bait Rasul tidak mewarisi, aku hanya pegang ucapan Rasul, tapi
kalau itu sampai menyakiti hati putri Rasul, aku mau minta maaf”. Maka diizinkanlah masuk berjumpa Sayyidatuna Fatimah. Berkata Imam Ibn Hajar “tidak keluar Sayyidina Abu Bakar Ashshiddiq dari rumah itu sebelum diridhai dan dimaafkan oleh Sayyidatuna Fatimah Azzahra”.
Imam Ibn Hajar Al Asqalani dan Hujjatul
Islam Al Imam Nawawi alaihi rahmatullah mengatakan kalau seandainya
tanah waris itu ada untuk ahlulbait Rasul saw, niscaya Saayidina Ali bin
Abi Tholib akan mengeluarkannya. Zaman Sayyidina Abu Bakar tidak
diberi, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman, sudah 3 khalifah. Dan disaat
Sayyidina Ali bin Abi Tholib tidak dikeluarkan juga!! Itu tanah fadak.
Kalau itu seandainya alhaq, Sayyidina Ali bin Abi Tholib akan
mengeluarkannya. Berarti Sayyidina Ali bin Abi Tholib salah, berarti
semua Khulafaurrasyidin salah. Ini hadirin, barangkali dari sebagian
hadirin tidak memahami pembahasan ini dan pembahasan ini penting. Karena
mulai semakin marak orang – orang yang mencaci para sahabat Rasul saw.
Mencaci Sayyidina Abu Bakar, Sayyidina Umar, Sayyidina Utsman yang
mengatakan mereka itu musuh – musuh ahlulbait. Salah besar, kenapa?
karena mereka berempat ini adalah keluarga Rasul. Sayyidina Abu Bakar
ini adalah mertuanya Rasulullah saw, Sayyidina Umar mertua Rasulullah
saw, Sayyidina Utsman menantu Rasulullah saw, Sayyidina Ali menantu
Rasulullah saw, mereka ini semua keluarganya Rasulullah saw. Mereka yang
mencaci dan mengatakan ada kesalahan pada hal ini berarti mengatakan
rumah tangga Rasulullah saw kacau balau. Mustahil!!
Hadirin, ini yang perlu saya perjelas
tentunya kita lanjutkan lagi betapa indahnya Sayyidina Hasan bin Ali kw
ketika akan wafat Sayyidina Hasan berkata dalam sakaratul maut, lihat
jiwa yang ditarbiyah dengan tarbiyah akhlak Nabi Muhammad saw. Sayyidina
Hasan bin Ali berkata “laqad aroftu man sammaniy wa laqad samahtuh” aku tahu siapa yang meracuni aku tapi aku sudah maafkan. Subhanallah!!
Sayyidina Hasan bin Ali radiyallahu anhum. Mereka orang yang khusyu’,
mereka orang – orang yang banyak bermunajat. Putra Sayyidina Husein bin Ali, dialah Sayyidina Ali Zainal Abidin yang dikenal sebagai Assajjad
(orang yang paling banyak bersujud). Gelar yang tidak pernah ada orang
lain selain beliau. Kenapa? karena sujudnya sebanyak 1000X setiap
malamnya. Beliau itu shalat malamnya 500 rakaat tiap malam, shalatnya
500 rakaat berarti 1000X kali sujud. Sujud kepada Allah. Kita tidak
mampu, namun paling tidak kita renungkan saja. Indahnya seperti apa
orang yang sujudnya 1000X kepada Allah. Betapa cintanya Allah kepada
orang itu, betapa ia menikmati asyiknya gerak – gerik sujudnya 1000X
setiap malamnya kehadirat Allah, betapa indahnya kelak istananya di
yaumal qiyamah.
Hadirin – hadirat, Imam Ali Zainal Abidin Assajjad
ketika wafat terlihat bekas kuli di kedua pundaknya keras, bagian
tubuhnya ini kasar seperti kuli. Kalau kuli itu kan sering mengangkat
berat, terlihat kulitnya itu kasar. Itu kejadian orang bertanya – Tanya,
kenapa ini? sering membawa berat tidak pernah terlihat? beberapa hari
kemudian baru diketahui bahwa banyak orang – orang miskin datang.
Darimana? kami biasanya tiap malam ada yang mengirimi makanan, ada yang
mengirimi sekarung beras, ada yang mengirimi sekarung gandum, tapi
sekarang tidak lagi setelah wafatnya Sayyidina Ali Zainal Abidin
Assajjad. Orang tidur, beliau selesai dari ibadahnya, mulai bagi – bagi
kepada fuqara tanpa ada yang tahu, diletakkan didepan rumahnya fulan
sampai berbekas dikedua pundaknya karena mengangkat beban yang berat.
Indahnya orang – orang seperti ini.
Hadirin – hadirat, beliau bermunajat ketika akhir malam “abduka bi finaa’ik, miskiinuka bi finaaik, faqiiruka bi finaaik, saailuka bi finaaik”
wahai Allah hamba-Mu dihadapan-Mu, wahai Allah orang yang miskin,
hamba-Mu yang miskin dihadapan-Mu, hamba-Mu yang fakir dihadapan-Mu, si
pengemis dihadapan-Mu. Siapa yang berdoa? yang sujud tiap malam
sebanyak 1000X, yang bershadaqah kepada fuqara tanpa diketahui orang
lain. Ia berkata “abduka bi finaa’ik, miskiinuka bi finaaik, faqiiruka bi finaaik, saailuka bi finaaik”.
Bagaimana keadaan putranya Sayyidina Ali Zainal Abidin yaitu Imam Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin Assajjad
yang ketika ia adalah orang yang paling taat dan sangat taat kepada
Allah, wajahnya bercahaya terang – benderang seakan – akan orang melihat
kembali cahayanya Rasul saw terbit di wajahnya Al Imam Muhammad Al
Bagir. Dan beliau di malam harinya selalu berdoa “amartaniy falam a’tamir, wa nahaytaniy falam anzajir, haa ana abduka bayna yadayk, mudznibun mukhthi’un, falaa a’tadzir”
inilah aku Muhammad Al Bagir, Kau banyak beri aku perintah padaku tapi
banyak yang tidak mampu kulakukan, banyak Kau melarang hal – hal yang
Kau larang wahai Allah, tapi ada juga yang tidak mampu aku lakukan,
masih juga kulakukan larangan-Mu, masih ada perintah-Mu kepadaku yang
masih belum kulakukan, masih banyak larangan-Mu yang Kau beri larangan
tapi aku masih aku lakukan. Ia berkata “haa ana abduka
mudznibun mukhti’un falaa a’tadzir” inilah aku hamba-Mu penuh dosa,
penuh salah dan aku tidak membela diri atas dosa – dosaku. Maksudnya
membela diri apa? maksudnya aku berdosa karena sedang sakit, aku
berdosa karena sedang tidak sengaja..tidak..tidak, memang aku pendosa.
Demikian juga hadirin dengan jiwa Imam Ja’far Ashshodiq bin Muhammad Al Bagir (putra Imam Muhammad Al Bagir).
“Haa ana abduka mudznibun mukhti’un falaa a’tadzir”.
Inilah Imam Muhammad Al Bagir, hamba penuh dosa, hamba penuh kesalahan,
hamba yang ketika diberi perintah masih juga banyak yang tidak
dilakukan, yang jika diberi larangan masih juga ada yang dilanggar.
Padahal beliau orang yang hampir tidak pernah berbuat hal yang mubah,
perbuatannya selalu didalam hal yang sunnah dan didalam hal yang fardhu,
tidak pernah berbuat hal yang makruh apalagi yang haram. Demikian jiwa
yang sangat rendah diri dihadapan Yang Maha Luhur. Demikian dengan
putranya Al Imam Ja’far Ashshodiq bin Muhammad Al Bagir bin Ali Zainal Abidin bin Husein binty Rasulillah saw. Bagaimana dengan Imam Ja’far? Imam Ja’far kalau berdoa memanggil Nama Allah tidak mau berhenti. Ia kalau berkata “ya Rabb..ya Rabb..ya Rabb” terus beliau lampiaskan doanya, rindunya, tangisnya, isi perasaannya di setiap memanggil Nama Allah. Beliau berkata “ya Allah..ya Allah..ya Allah”
terus sampai habis nafasnya. Kalau sudah habis nafasnya kemudian ganti
dengan Asma Allah yang lainnya. Demikian keadaan Imam Ja’far, demikian
keadaan Imam Muhammad Al Bagir, demikian keadaan Imam Ali Zainal
Abidin.. (Masya Allah)
diceritakan oleh: Habib Munzier Fuad Bin Abdurrahman Almusawwa
Sumber : https://pecintahabibana.wordpress.com/2013/03/29/sayyidah-fathimah-az-zahro-belahan-jiwa-rasulullah/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar